Penulis : Hasjantama Djafarudin
TANGERANG – Dalam dinamika politik dan birokrasi, ada satu fenomena unik yang selalu berulang namun tetap menarik untuk ditertawakan: kemunculan para “Pahlawan Kesiangan”. Mereka adalah sekelompok orang yang mendadak muncul dengan narasi paling heroik, paling setia, dan paling pasang badan saat seorang tokoh sudah berada di puncak kekuasaan.
Lucunya, sejarah tidak pernah benar-benar bisa dihapus. Bagi mereka yang mengawal perjuangan seorang pemimpin sejak nol, sejak zaman masih merintis perjuangan, tentu masih ingat jelas siapa-siapa saja yang dulu memilih menjauh, atau bahkan menjadi barisan terdepan yang melempar sinisme dan cacian.
Kini, pemandangan berubah drastis. Sosok yang dulu mereka remehkan, kini menjadi tempat mereka “menjilat” demi setitik perhatian atau sejumput keuntungan. Panggung kekuasaan mendadak penuh sesak oleh orang-orang yang mahir bermanuver, mengubah wajah benci menjadi wajah paling setia dalam sekejap mata.
Namun, satu hal yang perlu diingat oleh para penjilat bermuka dua ini: Kekuasaan punya batas waktu, tapi integritas dan sejarah itu abadi.
Seorang pemimpin yang cerdas pasti tahu cara membedakan mana kawan sejati yang menemaninya saat “berdarah-darah” di lapangan, dan mana penjilat yang hanya datang saat hidangan sudah tersedia di meja makan. Karena pada akhirnya, kesetiaan yang lahir dari kepentingan tidak akan pernah bisa mengalahkan loyalitas yang tumbuh dari perjuangan.
Mungkin saat ini mereka bisa tertawa di balik kedekatan yang dipaksakan. Namun bagi para saksi sejarah yang tetap konsisten dijalurnya, fenomena ini hanyalah sebuah komedi receh di tengah seriusnya mengelola amanah rakyat.


















