
TANGERANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat langkah preventif dan deteksi dini penyakit menular serta tidak menular di tengah masyarakat. Salah satu terobosan besar yang tengah digencarkan adalah pelaksanaan program terintegrasi antara pelacakan kontak (tracing) Tuberkulosis (TBC) dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Langkah jemput bola ini dihadirkan untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat secara komprehensif. Melalui strategi gabungan ini, pemerintah ingin memastikan warga tidak hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan umum secara berkala, tetapi juga terselamatkan dari risiko penularan penyakit menular yang kerap tersembunyi di lingkungan permukiman.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraeni menjelaskan, penggabungan dua program prioritas ini memiliki alasan mendasar yang kuat. Di tengah masyarakat, isu TBC seringkali masih dibayangi oleh stigma sosial membuat sebagian warga merasa takut atau ragu untuk memeriksakan diri.
Oleh karena itu, pelaksanaan skrining TBC dibarengi secara langsung dengan Cek Kesehatan Gratis. Strategi ini dinilai efektif untuk menepis stigma negatif sekaligus menarik minat masyarakat datang ke posko layanan kesehatan, mengingat program CKG sendiri kini diwajibkan bagi setiap warga minimal satu kali dalam setahun.
“Program skala masif ini mulai bergulir secara intensif sejak 27 Juli lalu. Launching perdana program terintegrasi ini dipusatkan di lokasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun, Kelurahan Alam Jaya, Kecamatan Jatiuwung. Ratusan warga sekitar langsung mendapatkan layanan pemeriksaan serentak di hari pertama pelaksanaan,” terang Dini, Senin (05/10/26).
Dalam perencanaannya, Dinas Kesehatan Kota Tangerang telah memetakan target penanganan di sebanyak 430 lokus yang tersebar di 104 kelurahan. Dari total alokasi tersebut, masing-masing kelurahan mendapatkan jatah empat kali kegiatan tracing di berbagai titik wilayah operasional.

Rancang Target Penuntasan Progam
Menurut Dini, skala kegiatan harian dirancang secara terstruktur agar target penuntasan dapat tercapai tepat waktu. Setiap harinya, tim medis menggelar layanan di lima lokus berbeda secara simultan guna memastikan cakupan wilayah tersentuh secara merata.
”Untuk kuota peserta, setiap satu lokus layanan dipatok rata-rata sebanyak 100 orang peserta perhari. Melalui skema lima lokus setiap hari, total ada sekitar 500 warga yang berhasil dijangkau dan diskrining kesehatannya secara konsisten setiap hari kerja,” tutur Dini.
Ia menambahkan, dukungan pendanaan untuk seluruh rangkaian program nasional ini disokong penuh melalui alokasi anggaran dari Kementerian Kesehatan yang dikolaborasikan secara optimal. Guna menarik partisipasi aktif warga, setiap peserta yang hadir dalam kegiatan ini juga diberikan fasilitas berupa uang transport sebesar Rp30 ribi ditambah makanan ringan (snack) di lokasi.
Sasaran utama dari tracing TBC ini merujuk langsung pada data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Petugas memfokuskan investigasi pada kontak erat maupun kontak serumah dari pasien yang telah terdiagnosis positif TBC sebelumnya.
”Langkah ini krusial mengingat karakteristik penularan TBC yang sangat mudah terjadi di dalam satu atap rumah. Jika dari satu keluarga ditemukan satu orang positif TBC, maka anggota keluarga atau kontak serumahnya langsung diminta menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memutus rantai penularan,” ungkap Dini.
Apabila dari hasil pemeriksaan lanjutan tersebut warga dinyatakan negatif, tenaga medis tetao memberikan langkah preventif berupa Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Sebaliknya, jika ditemukan indikasi kuat, penanganan kuratif langsung dijalankan tanpa penundaan.
Dalam hal fasilitas pemeriksaan, Dinas Kesehatan Kota Tangerang mengerahkan dua unit alat X-ray keliling (mobile) yang dibawa langsung ke titik-titik lokus. Selain itu, tenaga medis juga dibantu oleh aplikasi Ransel TBC serta peran aktif Kader Asmara TBC yang mendampingi proses skrining di lapangan.

Temukan, Obati Sampai Sembuh (TOSS)
”Bagi kasus positif, penanganan dibedakan menjadi dua kategori utama, yakni TBC Sensitif Obat (SO) yang wajib menjalani pengobatan rutin selama enam bulan, serta TBC Resisten Obat (RO). Khusus untuk pasien TBC RO dengan kondisi hunian atau ventilasi rumah yang kurang memadai, Pemkot Tangerang telah menyediakan fasilitas khusus di Rumah Isolasi Sahabat Paru yang berlokasi di Komplek PU Cikokol,” papar Dini.
Sementara itu, untuk layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemeriksaan difokuskan pada deteksi dini penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes melitus (DM). Warga yang terdeteksi memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau gula darah langsung mendapatkan intervensi pengobatan awal selama dua minggu di lokasi.
Hingga saat ini, progres pelaksanaan program gabungan tersebut telah menunjukkan capaian yang signifikan. Dari total target 43.000 peserta yang dipatok hingga bulan November mendatang, realisasi di lapangan telah menyentuh angka sekitar 21.000 warga.
Menariknya, dari ribuan sampel skrining yang telah berjalan, angka kasus positif TBC tercatat relatif rendah, yakni berada di kisaran 1 persen berkat ketatnya tahapan penapisan (penyaringan) jaringan berlapis. Seluruh rangkaian kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan profesional lintas sektor, mulai dari dokter, perawat, ahli gizi, tenaga sanitasi lingkungan, hingga organisasi profesi spesialis paru dan radiologi.
Melalui masifnya program tracing TBC dan CKG yang berjalan hingga penghujung tahun ini, Pemkot Tangerang optimis seluruh target sasaran dapat terselesaikan sesuai jadwal. Pemerintah berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya kesehatan preventif dapat terus meningkat demi mewujudkan derajat kesehatan yang lebih baik di Kota Tangerang.
Guna mencapai target penurunan kasus menuju Eliminasi TBC Tahun 2030, ia mengimbau seluruh warga Kota Tangerang untuk tidak ragu maupun malu memanfaatkan fasilitas pemeriksaan gratis ini melalui semangat TOSS (Temukan, Obati Sampai Sembuh).
“Pesan saya untuk seluruh masyarakat Kota Tangerang, jangan takut, jangan malu dan jangan segan. TBC bukan penyakit yang menakutkan atau memiliki stigma negatif, justru harus kita berantas bersama. Jika ada kader atau petugas puskesmas yang mengajak skrining TBC maupun CKG, mari datang dan periksakan diri. Jika ditemukan kasus positif, kunci utamanya adalah pengobatan sampai tuntas,” tukas Dini. (***)

















