Pengawasan Pergerakan WNA Belum Disertai Teknologi

    FOTO: Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Tangerang Felucia Sengky Ratna pada sesi perkenalan yang dikemas dengan diskusi bersama awak media (dok.hmi)

    TANGERANG (BT) – Mengawasi keberadaan atau pergerakan Warga Negara Asing (WNA) sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Imigrasi. Hal itu diakui Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Tangerang Felucia Sengky Ratna, dalam sesi perkenalan bersama sejumlah wartawan di kantornya, Selasa (11/2/2020).

    “Kami masih kesulitan kalau untuk mengawasi orang asing yang overstay (melebihi izin tinggal). Sejauh ini khususnya di Tangerang masih menggunakan pendekatan laporan dan pemberian informasi dari warga,” ucapnya.

    Sebab katanya, Imigrasi saat ini belum memiliki sebuah alat atau aplikasi yang dapat mengetahui atau melacak keberadaan orang asing yang tinggal di wilayah Tangerang raya.

    “Sampai saat ini belum ada teknologi yang digunakan untuk mengikuti keberadaan orang asing,” ujarnya.

    Menurutnya, penggunaan teknologi dalam mengawasi warga negara asing tengah menjadi pertimbangan, khususnya mengawasi pergerakannya.

    “Sedang saya pikirkan, bagaimana ada sistem, ada aplikasi memantau keberadaan orang asing di Tangerang. Mungkinkah saya buat aplikasi agar lebih proaktif yang tentunya (upaya pengawasan-red) melibatkan instansi lain,” tuturnya.

    Ia mengatakan, upaya mengawasi orang asing bukanlah perkara yang mudah. Pihaknya juga tidak dapat membuntuti orang asing yang berada di Tangerang setiap saat lantaran orang asing dimungkinkan berpindah-pindah tempat, bahkan keluar dari wilayah Tangerang.

    “Kita tidak bisa terus membuntuti orang asing. Kalau yang bersangkutan memang betul menginap di Jakarta, seminggu kemudian dia sudah pindah tempat, tiga hari kemudian sudah pindah tempat lagi,” jelasnya.

    Ia menegaskan, pengawasan orang asing tidak hanya sebatas memikirkan keberadaannya saja. Namun lebih meluas, bahwa pengawasan juga harus dilakukan dari hulu, di mana wilayah Indonesia yang begitu luas memungkinkan orang asing lolos keluar masuk Indonesia melalui jalur-jalur tradisional.

    “Jadi tidak sesederhana itu memang. Makanya penggunaan teknologi ini sedang dipikirkan, paling tidak untuk wilayah Tangerang,” katanya.

    Di lokasi yang sama, Kepala seksi intelijen dan penindakan keimigrasian Arief Yudistira mengaku pihaknya memiliki cara lain dalam mengawasi warga negara asing salah satunya dengan mewajibkan WNA menyertakan paspor pada setiap melakukan transaksi.

    “Bisa kita lacak melalui sistem barkode di handphone mereka. Pada saat melakukan kegiatan transaksional harus menyertakan paspor, nah di paspor itu kelihatan masa berlaku mereka tinggal di Indonesia,” kata Arief.

    Kendati demikian, upaya tersebut masih dalam progres penyempurnaan dan masih harus terus dievaluasi seberapa efektifnya cara tersebut dapat dijalankan. (Hmi)