Dialog Kebudayaan Menggali Identitas Kota Tangerang

    FOTO: Ketua ICMI Orda Kota Tangerang Jazuli Abdillah saat mengisi dialog

    TANGERANG – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Kota Tangerang bersama Benteng Nusantara adakan Dialog Kebudayaan bertajuk ‘Menggali Identitas Kota Tangerang’.

    Dialog yang dihadiri para aktivis di Kota Tangerang ini bertujuan untuk membangun masyarakat yang intelektual. Adapun kegiatan diisi oleh Ketua ICMI Orda Kota Tangerang, Jazuli Abdillah dan Ketua STISIP Yuppentek Tangerang, Bambang Kurniawan.

    Ketua ICMI Orda Kota Tangerang, Jazuli Abdillah mengatakan, bicara identitas di Kota Tangerang sebenarnya banyak bermunculan, bila identitas dinilai dari fisik. Artinya dilihat dari bangunannya, motto, dari makanan dan manusianya.

    “Kalau fisik banyak yang muncul, dimulai jargon Akhlaqul Karimah dan kemudian dari makanan khas sudah dimunculkan, kemudian juga ada bangunan situs untuk dilestarikan,” kata Jazuli, Jumat (4/12/2020) malam.

    Namun, Jazuli mengaku tidak berkonsentrasi dengan hal itu. Ia lebih tertarik mendorong identitas ke arah karakter, perilaku, perubahan sikap dan budaya masyarakat di Kota Tangerang.

    “Saya mendorong perubahan perilaku warganya, lebih pada kesejahteraan warganya, dan kalau bicara identitas kebudayaan, lebih pada kenyamanan suasana batin, kebahagiaan,” ucapnya.

    Pada kesempatan itu, Jazuli juga menyinggung pembangunan di Kota Tangerang yang dinilainya tidak berfaedah. Banyak ruang terbuka atau lapangan di Kota Tangerang yang salah pemanfaatannya.

    “Lapangan banyak, tapi kan kalau selfi itu lebih pada orientasi apa? Itu lebih pada pajangan hiasan, hanya melampiaskan keinginan. Warga kota itu tersumbat, ingin berkreasi, ingin menonton sesuatu tanpa diatur,” jelasnya.

    “Kota maju itu warganya merasa bebas tanpa aturan. Dalam budaya seperti ini, ada ekspresi-ekspresi warga ditengah kepenatan soal ekonomi, pengangguran akibat pandemi. Suasana terbuka ini yang akan dibangun teman-teman ke arah sana,” imbuhnya.

    Sementara Ketua STISIP Yuppentek Tangerang Bambang Kurniawan mengatakan, identitas sebuah kota itu adalah keunikan. Karakteristik yang tidak dimiliki kota-kota lain, dan Kota Tangerang sebenarnya banyak untuk membangun persepsi itu, asal dirawat.

    “Misalnya Kota Penjara, itu kan identitas, keunikan yang tidak dimiliki orang lain. Atau di kita ada masjid tertua yang berdekatan dengan kelenteng tua, itu kan bisa dijadikan kawasan wisata sejarah dan budaya, apalagi kedua bangunan itu punya sejarah yang berkaitan,” kata Bambang.

    Sayangnya, ia tidak melihat keseriusan pemerintah untuk membangun identitas tersebut, padahal Kota Tangerang memiliki kemampuan menggali identitas itu dari segala aspek.

    “Tapi ini menjadi tugas kita bersama. Kita gak bisa memberikan tanggung jawab beban ini kepada pemerintah saja. Tapi kita punya kemampuan untuk mempressur pemerintah bahwa menggali identitas itu dapat dilakukan dari segala aspek,” tandasnya.

    Penggagas dialog kebudayaan Garry Vebrian mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membangun masyarakat yang intelektual dari obrolan di sebuah kafe. Pihaknya juga berupaya mengembalikan budaya kafe sebagai ruang diskusi untuk melahirkan para pemikir bangsa.

    “Saya teringat budaya di Prancis bahwa banyak filsuf-filsuf lahir dari sebuah dialog di kafe-kafe,” katanya. (Hmi)