Berawal di Medsos Berujung ke Balik Jeruji

    FOTO: Kapolresta Bandara International Soetta Kombes Pol Adi Ferdian Saputra saat konferensi pers

    TANGERANG – Media sosial jadi pemicu tawuran antara dua kelompok pelajar yang mengakibatkan satu korban mengalami luka bacokan hingga kritis. Peristiwa terjadi di jalan Perimeter Utara, Bandara International Soekarno Hatta pada 4 Agustus 2020 lalu.

    Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta Kombes Pol Adi Ferdian Saputra mengungkapkan, korban berinisial R (16) merupakan pelajar SMK Swasta Teknologi Teluk Naga. Korban kritis setelah hasil rontgen tulang pengumpil pada tangannya putus.

    Kata dia, aksi tawuran ini melibatkan dua kelompok pelajar yakni antara pelajar Jakarta Barat dengan pelajar Tangerang yang diawali dari saling tantang di media sosial.

    “Tawuran ini terjadi karena olok-olok dan saling tantang untuk melakukan aksi tawuran dengan menggunakan sarana komunikasi WA (berawal dari Medsos),” kata Kapolres, saat menggelar jumpa pers di Mapolresta Bandara Soetta, Kamis (13/8/2020).

    Ia menjelaskan, mereka menentukan tempat untuk melakukan tawuran sesuai pesan dalam medsos di Facebook dan WhatsApp. Setelah itu mereka menentukan lokasinya di Jalan Perimeter Utara.

    “Karena menurut para pelaku di Jalan Perimeter Utara lebih aman dan sepi. Jadi bahkan lebih puas untuk saling baku hantam,” ujarnya.

    Ia menyebut para pelaku yang sudah ditetapkan menjadi tersangka ini didominasi oleh anak di bawah umur. “Dari sembilan orang pelaku, dua di antaranya sudah dewasa,” katanya.

    Adapun kesembilan tersangka di antaranya AMP (17), APR (19), MFF (20) dari SMK Swasta Yadika Jakarta Barat. Sementara 6 lainnya, AAF (16), KR (17), MFF (17), ES (17), FSM (16), GA (17) dari SMK Swasta Teknologi Teluk Naga Tangerang.

    Kini para tersangka mendekam di Polresta Bandara Soetta. Mereka dijerat sejumlah pasal, yakni Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang (UU) Darurat RI Nomor 12 Tahun 1952, Pasal 170 Ayat (2) ke-2 KUHPidana, dan Pasal 80 Ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman paling lama 10 tahun kurungan penjara. (Hmi)