Bicara Seni dan Budaya Kota Tangerang yang Dinilai Jalan Ditempat

    FOTO: Kabid Kebudayaan Kota Tangerang Sumangku Getar saat mengisi kegiatan diskusi

    TANGERANG – Seni dan budaya di Kota Tangerang saat ini sulit bertumbuh kembang, alias jalan ditempat. Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Kesenian Kota Tangerang (DKT) Madin Tyasawan, saat kegiatan diskusi kebudayaan di Rumah Makan Parigogo, Sabtu (19/12/2020).

    Padahal menurut Madin, kesenian dan kebudayaan di Kota Tangerang memiliki daya hidup yang sangat kuat. Namun, banyaknya persoalan yang muncul dari bawah membuat seni budaya jalan ditempat.

    “Ditambah kebijakan-kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang yang tidak berpihak kepada para pelaku seni,” katanya, dalam acara yang digelar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Banten.

    “Terlebih di tengah pandemi Covid-19 saat ini, geliat seni dan budaya yang sebelumnya sulit berkembang, menjadi lebih sulit,” imbuhnya.

    Di tempat yang sama, Kabid Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Pertamanan Kota Tangerang, Sumangku Getar tak memungkiri jika soal kebijakan yang berkaitan dengan anggaran dalam pemberdayaan seni dan kebudayaan saat ini masih sangat minim.

    “Anggarannya paling kecil, tahun kemarin musim Covid-19 hanya Rp50 juta, buat membantu kegiatan virtual, masih ada sisanya kita buat untuk pembuatan film tentang cagar budaya,” katanya.

    Diskusi kebudayaan yang diinisiasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Banten ini bertajuk “Geliat Seni dan Budaya Kota Tangerang Kemarin, Hari Ini, dan Esok Hari”. Adapun kegiatan turut dihadiri Anggota Komisi I DPRD Kota Tangerang Andri S Permana.

    Pada kesempatan itu, Andri mendorong JMSI Provinsi Banten bersama DKT Kota Tangerang menginisiasi Perda tentang kebudayaan.

    “Bicara budaya hari ini, apa yang bisa dilakukan, ya dibuat payung hukum. Kita mengacu pada Undang Undang No. 5 Tahun 2017, tentang kemajuan kebudayaan. Semua jelas ada di situ,” katanya. (Hmi)