DLH Kota Tangerang Beri Tips Pengurangan Sampah Selama Ramadan

    Pemilahan sampah organik yang bisa dioleh untuk membuat kompos, pakan ternak atau budi daya maggot.

    TANGERANG — Ramadan merupakan bulan pengendalian diri, termasuk dalam hal konsumsi. Mengurangi sampah menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan, kenyamanan beribadah, serta amanah terhadap lingkungan.

    Bulan Ramadan identik dengan meningkatnya konsumsi makanan dan minuman, terutama saat berbuka puasa dan sahur. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya timbulan sampah rumah tangga, khususnya sisa makanan serta kemasan sekali pakai.

    Momentum Ramadan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan ibadah spiritual, tetapi juga sebagai kesempatan memperkuat kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menjelaskan jenis sampah yang meningkat selama Ramadan di antaranya sisa makanan berbuka puasa dan sahur.

    “Sampah anorganik berupa kemasan takjil, kantong belanja, botol minuman, termasuk styrofoam, wadah sekali pakai, serta kertas dan kardus dari aktivitas belanja daring,” ungkap Wawan.

    Ia menambahkan, lonjakan sampah selama Ramadan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti penumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan lingkungan permukiman, bau tidak sedap, potensi penyebaran penyakit, penyumbatan saluran air yang meningkatkan risiko banjir, serta bertambahnya beban pengangkutan dan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

    “Apabila tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat mengurangi kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah,” ujarnya.

    Aktivitas pemilahan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis.

    Pengelolaan Sampah Berbasis 3R

    Menurut Wawan, upaya pengurangan sampah selama Ramadan dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

    Pada tahap Reduce (mengurangi), masyarakat diimbau membeli dan mengkonsumsi makanan secukupnya untuk menghindari pemborosan, membawa tas belanja sendiri, menghindari penggunaan plastik dan styrofoam, serta menggunakan tumbler dan wadah makan pribadi saat membeli takjil.

    Pada tahap Reuse (menggunakan kembali), masyarakat dapat menggunakan wadah makanan yang dapat dipakai ulang, memanfaatkan kembali kantong belanja yang masih layak, serta menggunakan piring dan gelas non-sekali pakai saat kegiatan buka bersama.

    Sementara itu, pada tahap Recycle (daur ulang), warga dapat memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, mengolah sisa makanan menjadi kompos, serta menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah.

    Wawan menegaskan keberhasilan pengurangan sampah selama Ramadan memerlukan partisipasi aktif masyarakat melalui perubahan pola konsumsi yang lebih bijak dan tidak berlebihan, edukasi keluarga tentang pentingnya memilah sampah, partisipasi dalam Gerakan Ramadan Minim Sampah, serta menjadi teladan dalam menjaga kebersihan lingkungan.

    “Dengan mengurangi sampah, masyarakat tidak hanya menjaga kebersihan dan kenyamanan beribadah, tetapi juga turut merawat lingkungan demi keberlanjutan masa depan,” pungkasnya. (***)