Isu Korupsi Mencuat, Pilih Calon Yang Tidak Punya Masa Lalu

    Pilkada Tangsel 2020

    TANGERANG SELATAN – Jelang hari pencoblosan di akhir tahun nanti, Pilkada Kota Tangerang Selatan semakin memanas. Hal itu bisa dilihat dari dinamika yang terjadi di lapangan.

    Hampir setiap hari deklarasi dukungan menyeruak dari masing-masing pasangan calon. Belum lagi gesekan tentang alat peraga dimana aksi vandalisme kerap terjadi di tiga paslon.

    Ada juga yang saling menyindir sejumlah isu, termasuk isu korupsi yang beberapa waktu lalu sempat dimainkan calon wakil walikota Tangsel nomor urut satu Rahayu Saraswati.

    Keponakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ini bahkan menyebut kasus-kasus korupsi seperti alat kesehatan yang bikin fasilitas kesehatan di Kota Tangsel belum sepenuhnya ideal. Bahkan untuk tipe rumah sakit saja, masih jauh tertinggal.

    “Sektor kesehatan terbengkalai di Tangsel karena kasus korupsi alat-alat kesehatan (alkes). Kita sudah tahu siapa pelakunya dan sudah divonis oleh Pengadilan Tipikor,” kata kandidat yang akrab disapa Sara ini.

    Dalam visi dan misinya, Sara secara gamblang menyebut masalah korupsi yang akan dibenahinya jika terpilih menjadi wakil walikota.

    “Sesuai misi Muhamad-Saraswati, Kota Tangsel yang Transparan, Akuntabel, Nyata Pengabdiannya bukan korupsinya, Gotong royong, Sejahtera warganya, Elok kotanya dan Luhur budinya,” ujarnya.

    Menanggapi sejumlah isu korupsi yang mulai dimainkan para kandidat, pengamat politik UNIS Tangerang Miftahul Adib menilai wajar jika Sara memainkan isu korupsi. Ini lantaran isu tersebut masih jadi magnet untuk menggiring pemilih kelas menengah yang memang cukup suka dengan isu itu.

    Namun harus diingat, isu tersebut seperti memercik air ke mukanya, lantaran pasangannya Muhamad bukan orang yang bersih-bersih amat.

    “Perlu diingat, Muhamad itu mantan sekretaris daerah (Sekda) yang juga cukup berkonstribusi terhadap persoalan korupsi. Ia bahkan diduga disebut sebut dalam sejumlah kasus penjualan lahan milik negara di Ciputat. Ini bisa jadi masalah serius jika hal itu kembali diungkit,” paparnya, saat dihubungi, kemarin.

    Tak hanya Muhamad, paslon nomor urut tiga Benyamin Davnie juga bisa terseret jika isu korupsi terus dimainkan. Apalagi citranya memang menempel dengan walikota Airin Rachmi Diany yang lekat dengan persoalan korupsi karena menyeret nama suaminya.

    Beberapa waktu lalu juga ada isu dugaan korupsi gedung DPRD Kota Tangsel yang disoroti sejumlah aktivis. Benyamin disebut-sebut harus bertanggung jawab atas masalah kantor wakil rakyat itu.

    “Isu korupsi bisa menggerek elektabilitas jika dapat dikelola dengan baik. Tim pemenangan harus lihai dalam menggarap isu ini. Bisa jadi jualan yang baik kalau momentumnya tepat,” ungkapnya.

    Disinggung siapa yang diuntungkan dengan isu ini, Adib bilang calon walikota nomor urut dua Siti Nurazizah. Sebab, dirinya tidak punya masa lalu di Kota Tangsel dan baru terjun ke politik selepas menanggalkan pekerjaannya sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Agama. 

    Ibaratnya, Azizah masih suci dan bila masalah korupsi ini bisa dimainkan dengan baik akan menaikan elektoralnya. Nah, tinggal bagaimana dirinya bisa memposisikan sebagai orang yang konsen dalam pemberantasan korupsi. Jika itu bisa dilakukan, Adib yakin akan menggerek elektabilitasnya.

    “Saya rasa tinggal memanajerial pesan, misal ia berkomitmen dalam pemberantasan korupsi, jika Azizah bisa menggarap dengan baik, pemilih kelas menengah bisa saja menjatuhkan pilihan terhadapnya,” ungkapnya.

    Sementara itu, calon walikota Siti Nurazizah mengaku, tidak ada beban ketika berkeliling untuk melakukan sosialisasi. Artinya ketika ia menyampaikan visi dan misi, masyarakat tidak ada yang mencibir.

    Bahkan masyarakat justru mendukung, karena ia membawa harapan akan perubahan Kota Tangsel yang lebih baik. Hal itu, kata Azizah memacunya untuk terus mensosialisasikan program-program ke seluruh wilayah di Kota Tangsel.

    Ia percaya diri bila pada hari pencoblosan 9 Desember mendatang dapat memenangkan kontestasi. Kepercayaan itu muncul karena masyarakat Tangsel dinilai sudah cerdas dalam memilih calonnya. Terlebih dirinya tidak mempunyai masa lalu yang dinilai negatif.

    “Mungkin ada beberapa hal yang membedakan saya dengan pasangan lainnya, salah satunya tidak mempunyai masa lalu yang buruk,” ujarnya. (rls/tam)