
TANGERANG (BT) – Produk sepatu SABA di Kabupaten Tangerang diborong para konsumen dari luar daerah. Konsumen itu merupakan para Kepala Desa (Kades) dari Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara.
Terhitung sebanyak 20 kades asal Tapanuli Utara itu berkunjung ke Kabupaten Tangerang dalam rangka study banding terkait pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des). Tak hanya itu, rombongan kades ini pun melihat proses pembuatan sepatu SABA di Kabupaten Tangerang.
Salah satu rombongan kades, Jerimot Manalu mengakui bahwa kunjungannya ke Kabupaten Tangerang ini dalam rangka study banding soal pengelolaan BUM-Des. Dalam kesempatan itu rombongan kades pun belajar tentang pengelolaan BUM-Des ke desa-desa di wilayah Kecamatan Panongan, yaitu di Desa Serdang Kulon dan Desa Rancaiyuh.
Jerimot juga mengungkapkan, selain ingin mendapat ilmu tentang bagaimana cara mengelola BUM-Des, pihaknya juga ingin membuat jaringan serta menggali potensi yang bisa disinergikan dalam mengelola BUM-Des di daerahnya.
Di tengah pelesiran itu rombongan kades melihat tempat pembuatan sepatu SABA, Jerimot mengaku sangat tertarik, dan ingin menjalin kerjasama. Bahkan dirinya mengaku ingin membuat sepatu dengan motif kain tenun khas Tapanuli, guna mengangkat kearifal lokal di daerahnya.
“Ini menjadi salah satu potensi dalam mengembangkan BUM-Des. Kami tertarik untuk bekerjasama dengan sepatu SABA. Ingin memesan sepatu untuk seragam, terutama anak-anak sekolah,” katanya, Jumat (13/12/2019).
Diketahui, SABA merupakan salah satu merek sepatu brand lokal dari Cikupa, Kabupaten Tangerang. SABA adalah milik salah seorang anggota Asosiasi Pengrajin Tangerang (APTA), yang saat ini sudah mulai menembus pasar Nasional.
Owner sepatu SABA Suyadi menyambut baik kehadiran para Kades dari Kebupaten Tapanuli Utara tersebut. Ia berharap kedatangan para kades ini mampu membawa energi baru dalam mengembangkan usaha di bidang alas kaki tersebut.
“Kita berharap nantinya ada kerjasama. Dan, kita siap menerima pesanan dengan berbagai model dan bentuk, bahkan dengan motif batik khas Tapanuli. Karena, selain memiliki nilai ekonomi, juga sebagai media untuk mengajak masyarakat agar lebih mencintai budaya sendiri,” Tutur Suyadi.
Sementara Ketua Asosiasi Pengrajin Tangerang (APTA), Widi Hatmoko ikut menyambut kedatangan para kades tersebut. Ia berharap agar produk alas kaki, baik sandal maupun sepatu dari Kabupaten Tangerang bisa menjelajah ke pelosok Indonesia. Diakui Widi, produk alas kaki dari Tangerang ini memiliki kualitas tak kalah dengan produk impor. Oleh karena itu, ia mengajak agar masyarakat lebih mencintai dan memakai produk lokal.
“Karena, dengan kita menggunakan produk lokal, selain ikut membantu ekonomi masyarakat, dan ikut membantu pemerintah dalam mengatasi soal pengangguran, juga telah berkontribusi dalam menekan sampah dari produk impor,” jelas Widi.
“Kalau masyaraat kita bisa, dan kita mampu untuk berproduksi, tak perlu kita pakai yang impor. Saatnya kita kembali ke jati diri kita, selamatkan lingkungan dan selamatkan budaya mencintai produk bangsa sendiri,” imbuhnya. (Hmi)





















