Ketua-DPD-Golkar-Kota-Tangerang-Drs-H-Sachrudin-2
PKS-HUT-RI

    Aksi Solidaritas Santri Tolak Transformer Melintas di Teluknaga

    FOTO: KH. M Bustomi Zarkasyi Hasan, Pembina Ponpes Al-Hasaniyah Teluknaga Tangerang, saat orasi

    TANGERANG (BT) – Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hasaniyah Teluknaga, menggelar aksi solidaritas di Jalan Marsekal Suryadarma, Bojong Renged wilayah perbatasan Kota/Kabupaten Tangerang, Rabu (15/1/2020).

    Aksi yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat ini menuntut penegakan Perbup No 47 dan Perwal No 30 tentang aturan dan ketentuan jam operasional truk atau kendaraan besar di Kota/Kabupaten Tangerang.

    Diketahui sebelumnya, aksi protes ratusan santri ini dilatarbelakangi insiden kecelakaan yang melibatkan truk pengangkut tanah dan sepeda motor yang nyaris merenggut nyawa seorang santri asal Ponpes Al-Hasaniyah, di Jalan Marsekal Suryadarma, Teluknaga, Selasa (14/1/2020) kemarin.

    Insiden itu pun memicu amarah sejumlah warga dan santri di wilayah tersebut. Selain itu, keberadaan truk-truk transformer tersebut bak teror bagi masyarakat, saat melintasi jalan-jalan di sekitar Tangerang.

    Pembina Ponpes Al-Hasaniyah Teluknaga Tangerang, KH. M Bustomi Zarkasyi Hasan menyampaikan agar pemerintah bertindak tegas terkait jam operasional truk pengangkut tanah. Ia juga berharap tidak ada lagi pembiaran saat truk tanah beroperasi di luar ketentuan.

    “Saya minta bupati, gubernur, bahkan presiden kalau perlu. Tolong dengar, di wilayah kami ini di Teluknaga sudah banyak menelan korban akibat truk tanah. Operasionalnya tidak beraturan, sampai 24 jam beroperasi,” kata Bustomi, Rabu (15/1/2020).

    Ia melanjutkan, pemerintah dalam hal ini harus mengambil langkah serius untuk bertindak tegas tanpa terkecuali dan tanpa ada kepentingan. “Jangan sampai masyarakat dikorbankan hanya demi kepentingan. Tolong wakil rakyat dengarkan aspirasi kami,” ujarnya.

    Pihaknya juga mengaku akan terus mengawal Perbup No 47 dan Perwal No 30 terkait aturan dan ketentuan jam operasional truk tanah. Sebab menurutnya, keberadaan truk-truk tersebut banyak merugikan masyarakat di lingkungan yang dilintasinya.

    “Ini warisan leluhur kami, tolong dijaga wilayah ini. Kami tidak ingin ada korban lagi, cukup santri kami, jangan ada lagi,” tandasnya. (Hmi)