Kampung Pendora di Neglasari Jadi Destinasi Pendidikan dan Olahraga

    Kunjungan Wakil Walikota Tangerang H Sachrudin (kanan), ke Kampung Pendora beberapa waktu lalu.

    TANGERANG – Sesuai dengan namanya yaitu Kampung Pendora, kampung yang berada di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Neglasari kini menjadi tujuan kunjungan pendidikan dan olahraga.

    Kampung ini kini menjadi sorotan publik khususnya bagi masyarakat Kota Tangerang, setelah aparatur kelurahan setempat bersama warga berhasil menyulap lahan seluas sekitar 5000 meter persegi itu menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Khususnya bagi para pelajar.

    Lahirnya Kampung Pendora, bermula dari permasalahan sampah yang kerap dikeluhkan warga RW 07, Kelurahan Karang Anyar. Pasalnya sering terjadi penumpukan akibat keterlambatan pengangkutan sampah.

    Suasana Kampung Pendora dimalam hari.

    “Namun alhamdulillah, berkat kepedulian warga serta kerjasama yang baik bersama aparatur Kelurahan Karang Anyar, Kampung Pendora kini menjadi tempat kunjungan pendidikan dan olahraga para siswa PAUD, TK dan SD,” ungkap Camat Neglasari, Tubagus Sanny Soniawan.

    Menurutnya, di Kampung Pendora kini terdapat aktivitas warga yang melakukan kegiatan bercocok tanam. Termasuk membudidayakan jenis ikan lele, nila dan lobster air tawar.

    “Di Kampung Pendora kini telah dibangun saung, fasilitas bermain anak, area terbuka untuk pertemuan warga serta tempat pengelolaan sampah. Kampung tematik ini sering dikunjungi siswa PAUD, TK dan SD, karena lingkungannya yang indah dan memiliki konsep taman edukasi,” terang Sanny.

    Sedangkan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Neglasari, Acep Suhardiman menjelaskan, Kampung Pendora juga mengusung konsep ramah lingkungan. Sebab warga di kampung itu dilibatkan langsung untuk mengelola sampah rumah tangga diwilayah mereka sendiri.

    Mengenalkan kepedulian lingkungan kepada anak usia dini.

    “Warga sudah mulai mengolah sampah organik menjadi maggot yang berguna sebagai pengganti pakan ternak. Sehingga sampah yang semula tidak bermanfaat, kini memiliki nilai ekonomi,” terang Acep.

    Melalui Kampung Pendora tambah Acep, pihaknya mencoba membangun rasa kepedulian anak usia dini untuk lebih peduli terhadap lingkungannya.

    “Sebagai destinasi wisata edukasi bagi warga Kota Tangerang, para siswa yang datang bisa belajar tentang banyak hal di Kampung Pendora. Mulai dari pengelolaan sampah, kebersihan, penghijauan dan beternak. Bahkan para murid diperkenankan untuk memberi makan ternak yang dipelihara disana,” tutur Acep.  

    Berdirinya Kampung Pendora

    Seperti telah diulas sedikit diawal, Kampung Pendora lahir karena adanya permasalahan sampah lingkungan. Diinisiasi oleh Lurah Karang Anyar Andia Suherlandia Rahman bersama masyarakat setempat, maka dikonseplah satu taman edukasi sekaligus tempat pengelolaan sampah.

    Meski pada awalnya sempat mendapat pertentangan dari warga karena dikhawatirkan terjadi dampak lingkungan, namun ketidaksepahaman tersebut dapat disiasati dengan diawali pembangunan taman pada akhir 2020 lalu.

    Sambutan warga Wonosari menyambut kedatangan rombongan Andia.

    Melihat keindahan dan keasrian taman dilingkungan warga tersebut, akhirnya masyarakat dapat memahami bila konsep pengelolaan sampah yang akan dibangun berdampak positif bagi lingkungan.  

    Karena dinilai menarik dan memiliki potensi baik terhadap masyarakat Karang Anyar, seorang pegiat lingkungan bernama Bambang Irianto diutus Pemkot Tangerang untuk melakukan pembinaan. Bahkan para pengelola Kampung Pendora pernah menimba ilmu di

    Konsep kawasan edukasi dan olahraga yang diusung Kampung Pendora, ternyata juga menarik perhatian Dudung Dwi Lesmono, seorang Kepala Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur.   

    Dudung pun mendatangi Kampung Pendora guna mengetahui apa saja yang sebenarnya ada di taman edukasi tersebut. Ia pun mendukung penuh aktivitas warga dan bertukar ilmu dengan pengelola terkait konsep berwawasan lingkungan.

    Akhir dari kunjungan, Dudung pun mengundang balik Lurah Karang Anyar untuk berkunjung ke daerahnya. Tujuannya untuk belajar dan bertukar ilmu serta mempelajari potensi yang mungkin bisa diadopsi.

    Memanfaatkan parit untuk budi daya ikan.

    “Akhirnya saya bersama 11 warga Karang Anyar yang bergabung dalam Komunitas Bimasena, mendatangi Desa Kemiri. Alhamdulillah, kami mendapat sambutan hangat dan mengantongi pengetahuan yang sebelumnya belum pernah kami dalami,”kata Lurah Karang Anyar, Andia Suherlandia Rahman  

    Konsep taman tematik edukasi dan olahraga yang diusung Kampung Pendora, ternyata menjadi perhatian tersendiri bagi warga Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Kedatangan Andia pun disambut meriah oleh masyarakat.

    Beberapa titik lokasi disambangi rombongan Andia, tujuannya guna memperdalam wawasan tentang pengelolaan lingkungan. Lurah Purwantoro Dwi Kurniawan, Kapolsek Blimbing Kompol Rizal serta Danramil Blimbing AKP Imran turut mendampingi rombongan.

    Rombongan Andia juga didampingi Ketua Pusat Pengkajian Universitas Negeri Malang dan Komunitas Seni Dewi Godong 19. Bahkan dimalam terakhir kunjungan, Andia diundang bertamu ke rumah dinas Walikota Malang Sutiaji.

    Rombongan Andia pun berkesempatan belajar di Fanan Isan Baksya (FIB) School of Talents Malang, yang didirikan oleh Lukman Hakim. Sekolah ini mengembangkan potensi bakat anak dan rancangan keluarga homeschooling.

    Kawasan Kampung Pendora.

    Sederet prestasi pun kini telah ditoreh Kampung Pendora. Diantaranya Juara I Proklim Tingkat Kota Tangerang. Juara II Pengelolaan Sampah Spesifik B3 Rumah Tangga. Juara III Inovasi Kampung Tematik.

    Kampung Pendora kini menjadi perhatian, baik warga Kota Tangerang maupun luar daerah. Taman kawasan edukasi ini pun menjadi sangat menarik untuk dikunjungi.

    Pemerhati Lingkungan Probolinggo serta lurah dan sekcam se-Kecamatan Jambi Selatan pun pernah bertandang ke tempat ini. Termasuk para siswa SMA Strada yang pernah datang untuk menyelesaikan tugas makalah dari sekolahnya.

    “Tiga orang Doktor Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya, masing-masing DR Radityo, DR Nur Prima dan DR Fachrul, rencananya akan mengkaji Kampung Pendora untuk dijadikan Laboratorium Akademis Universitas Brawijaya,” tukas Andia. (***)