Sebuah permasalahan dari perekonomian Indonesia, dimana ketika dolar naik sangat berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Faktor melemahnya rupiah di Indonesia saat ini dikarenakan adanya perekonomian Amerika yang semakin meningkat.
Faktor pertama yang sangat mempengaruhi melemahnya rupiah dimana salah satu Bank Sentral di Amerika yaitu The Fed yang mempunyai rencana untuk melakukan bagaimana sebuah sistem dengan sebutan tappering off atau adanya pengurangan quentitative easing biasa disebut sebagai stimulus ekonomi yang mengakibatkan mata uang dolar Amerika semakin meningkat di kanca global sehingga suplai uang dolar pun berkurang.
Adapun rencana dilakukan pada 2013, dan dampaknya berbanding terbalik terhadap perekonomian Indonesia. Kala itu Indonesia sebagai negara berkembang yang mudah sekali terdepresiasi akibat mata uang asing yang terus menerus menekan. Terlebih, mata uang rupiah itu sendiri sangat sensitif dengan perekonomian Internasional, karena pada dasarnya mata uang rupiah memiliki karakter tersendiri yaitu soft currency.
Karena adanya ketidakstabilan dalam perekonomian Internasional maupun krisis finansial sangat berdampak terhadap melemahnya mata uang rupiah. Setelah itu terdapat faktor lain yang mengakibatkan melemahnya mata uang rupiah yaitu tekanan secara terus menerus oleh The Fed.
Ketika itu, The Fed yang menjadi Bank Sentral di Amerika Serikat memiliki rencana guna memotong dan membatasi pembelian obligasi pada 2013 lalu. Nilai tukar dari rupiah serta IHSG yang sering disebut dengan indeks saham gabungan saling berfluktuasi sangat tajam, sehingga mengakibatkan melemahnya mata uang rupiah dan akan terus merosot jauh dengan peningkatan yang tak seberapa. Hal itu pun berdampak kepada lalu lintas jalur keuangan dunia.
Akhir-akhir ini diketahui banyak isu yang beranggapan bahwa naiknya mata uang dolar diakibatkan oleh virus corona. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak hingga menyentuh Rp16,037 per dolar AS.
Dikutip dari liputan6.com pada situasi seperti ini, Direktur PT TRFX Garuda Berjangkan Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa kurs rupiah akan terus berada di posisi yang rentan, karena adanya kepanikan pasar global yang disebabkan oleh penyebaran wabah virus corona.
“Ini level kunci dan akan terus melemah sambil menunggu informasi virus corona. Pasar panik,” ujar Ibrahim, Jumat (20/3/2020) lalu.
Dari yang dikatakan oleh Ibrahim selaku Direktur PT TRFX Garuda itu memang benar dan adanya kepanikan pasar merupakan indikator utama pelemahan tersebut. Ibrahim juga beranggapan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dalam menghadapi level nilai tukar rupiah saat ini. Naiknya harga dolar mengakibatkan melonjaknya harga pasar yang terjadi di Indonesia, dimana pada saat melonjaknya semua harga bahan pokok mengakibatkan keresahan masyarakat Indonesia, hingga terjadi panic buying yang semakin memperburuk keadaan saat ini.
Seperti dikutip dari Liputan6.com “Tapi masalahnya penyebaran covid ini secara masif, membuat instrumen USD Amerika Serikat merupakan salah satu instrumen safe heaven, maka dari itu rupiah belum ada katalis positifnya,” kata Nafan, Rabu (18/3/2020).
Situasi seperti ini pernah terjadi sebelumnya pada krisis ekonomi tahun 2008-2009, dimana Bank Sentral di Amerika Serikat alias The Fed juga melakukan quantitave easing seperti saat ini yakni salah satu kebijakan moneter guna meningkatkan jumlah uang beredar yang sangat mempengaruhi ekspetasi pasar terhadap ekonomi global.
Pandemi virus corona ini mengakibatkan antisipasi dari pemerintah yang melakukan sistem lockdown serta pembatasan akses juga sangat berdampak buruk terhadap perekonomian Indonesia. Karena pada dasarnya kondisi surplus perdagangan dinilai semu dan impor bahan baku pada saat ini turun tajam bila dibanding dengan bulan-bulan sebelum adanya virus corona ini terjadi.
Biasanya 3-5 bulan setelah impor bahan baku turun, produksi manufaktur ikut turun. Investor asing secara persisten lakukan aksi jual di bursa saham. Dalam sepekan terakhir nett sell di bursa menembus Rp780 miliar. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo akan terus memantau kondisi perekonomian Internasional saat ini akibat penyebaran virus corona.
Selain itu, dampak dari penyebaran virus corona sendiri sangat mempengaruhi akses pariwisata di Indonesia sehingga memperburuk perekonomian saat ini. Dikutip dari Indozone TV Perry menambahkan, strategi moneter perlu dilakukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pergantian tahun. Selain itu hal tersebut juga dilakukan untuk mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.
“Kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian,” kata Perry.
Oleh karena itu Pemerintah Indonesia saat ini meminimalisir kegiatan impor untuk sementara waktu hingga perekonomian dunia kembali stabil. Terakhir, yang perlu dilakukan pada saat ini adalah dimana pemerintah harus menegaskan kepada masyarakat untuk mengurangi pembelanjaan secara impor dan mengurangi ketergantungan terhadap barang luar negeri, karena pada dasarnya Indonesia sendiri sangat memiliki kekayaan yang cukup berlimpah.
Di samping itu, Indonesia juga masih mampu untuk mendiversifikasi sumber energi sendiri. Maka sangat disarankan untuk masyarakat yang masih ingin berinvestasi, sebaiknya berinvestasi yang tidak begitu berpengaruh terhadap dengan kenaikan dolar seperti halnya investasi emas dan surat utang negara. Namun pada aspek ini tidak semua masyarakat Indonesia merugi karenanya. Terdapat beberapa pihak yang diuntungkan seperti eksportir yang target pasarnya konsumen luar negeri.
Meskipun beberapa pihak yang diuntungkan menjual barang dengan harga yang sama, namun selisih dolar terhadap rupiah bisa menjadi sebuah keuntungan itu sendiri. Terlebih, karena pengurangan penggunaan impor di Indonesia mengakibatkan berjayanya produk lokal itu sendiri. Maka seyogyanya Pemerintah Indonesia sendiri yang harus melakukan hal demikian. Mengingat beberapa lembaga domestik dan internasional telah membuat proyeksi terhadap perekonomian Indonesia saat ini.
Ditambah lagi Bank Indonesia (BI) sendiri memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 mencapai 5,1%-5,5%, dimana titik tengahnya terdapat pada angka 5,3%, sebagian telah tertuang dalam asumsi makro Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020. Sehingga harapannya kedepan Indonesia bisa berdikari terhadap ekonomi, agar masyarakat kedepannya dapat lebih sejahtera, sehingga pemerintah pun dapat mengurangi impor dari luar negeri.
Penulis: Ahmad Julkifli Sodima, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM






















