Iklan-PJTI
HUT-Kota-Tangerang-PKB.jpg

    September 2019, BMKG: 19 Kali Gempa Bumi Tektonik Terjadi di Banten

    FOTO: dok. Analisis BMKG Stageof Tangerang

    TANGERANG (BT) – Selama pekan ke tiga Bulan September 2019, di wilayah Banten dan sekitarnya telah terjadi gempa bumi tektonik sebanyak 19 kali. Aktivitas kegempaan pada minggu ke-3 September 2019 relatif lebih rendah, bila dibandingkan dengan minggu ke-4 Agustus dan minggu ke-2 September 2019.

    Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika (Stageof) Tangerang, Suwardi menjelaskan, hasil analisa BMKG Stageof Tangerang menunjukkan bahwa kekuatan gempa bumi yang terjadi bervariasi dari M1.9 hingga M5.9.

    “Sebaran pusat gempa bumi (episenter) kebanyakan berada di laut barat Provinsi Banten,” ungkap Suwardi, Sabtu (21/9/2019).

    Lanjut dia, gempa bumi dengan kekuatan 3 ≤ M ≤ 5 cukup dominan yaitu sekitar 57% (11 kejadian), diikuti gempa bumi dengan kekuatan M < 3 sebesar 40% (6 kejadian), serta gempa bumi dengan M > 5 sebesar 3% (2 kejadian).

    “Dari 19 kejadian tersebut tidak terdapat gempa bumi dirasakan maupun merusak, gempa bumi tersebut hanya tercatat oleh seismograph (alat pencatat gempa bumi,-red) saja,” ujarnya.

    Kesiapsiagaan harus selalu dikedepankan, tegas Suwardi, meskipun aktivitas kegempaan pada Minggu ke-3 September cenderung lebih rendah dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya, mengingat Banten dan sekitarnya berada di jalur kegempaan yang cukup aktif.

    “Gempa bumi yang berpotensi menyebabkan kerusakkan di Provinsi Banten dan sekitarnya bersumber dari sekitar Selat Sunda yaitu sesar Ujung Kulon, Zona Megatrust selatan Banten, serta sesar Semangko,” urainya.

    Meski demikian, berlatih menghadapi gempa bumi bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Kata dia, pastikan setiap anggota keluarga terampil melakukan perlindungan diri sendiri (drop-cover-hold on).

    “Mereka bisa memanfaatkan benda-benda di sekitar mereka seperti helm, kolong furnitur yang kuat untuk melindungi kepala dan leher mereka dari potensi terkena reruntuhan bangunan,” tuturnya.

    “Diharapkan nantinya mereka menjadi terlatih dan reflek melakukannya saat mereka merasakan guncangan gempa bumi,” pungkasnya. (Hmi)