Iklan-PJTI
HUT-Kota-Tangerang-PKB.jpg

    Ustadz se-Tangerang Minta Aktifitas Masjid Kembali Dibuka Dengan Syarat

    Foto : Ilustrasi. (net)

    TANGERANG – Pasca ditetapkannya status tanggap darurat Covid-19, tiga kepala daerah se-Tangerang Raya mengeluarkan surat edaran berupa imbauan kepada masyarakat untuk tidak menyelenggarakan kegiatan ibadah sholat Jumat di masjid-masjid dalam rangka mencegah wabah virus corona.

    Selama dua pekan hampir seluruh umat muslim di Tangerang Raya menjalankan imbauan tersebut meski sempat menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Memasuki pekan ketiga, para jamaah se-Tangerang Raya menyatakan sikap untuk kembali menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid terdekat wilayah masing-masing.

    Melalui Forum Ustaz Tangerang Raya (FUTAR), para jamaah mendesak pemerintah untuk kembali membuka aktivitas masjid di wilayah Tangerang Raya yang meliputi Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

    Ketua FUTAR Nurkholis menyampaikan bahwa para pengurus dewan kemakmuran masjid (DKM) dan para jamaah di Tangerang Raya merasa resah dengan tak diizinkannya melakukan kegiatan ibadah di masjid-masjid akibat pandemi Covid-19.

    “Kami meminta pemerintah daerah di Tangerang Raya berkenan mengeluarkan surat edaran yang mengizinkan pembukaan kembali masjid-masjid yang selama ini ditutup dan membolehkan kegiatan shalat Jumat dan shalat Jamaah Rawatib di Masjid-Masjid seluruh Tangerang Raya secara bersyarat,” ungkap Nurkholis saat dikonfirmasi, Selasa (7/4/2020).

    Namun demikian, Nurkholis menyebut terdapat sejumlah persyaratan bagi DKM yang hendak membuka kembali masjid dan kegiatan ibadah lain yang diselenggarakan di masjid.

    Pertama, kata Nurkholis, kegiatan yang diperbolehkan untuk sementara hanya terbatas pada shalat Jumat dan shalat Jamaah Rawatib.

    Kemudian, DKM harus membentuk tim screening dan tim kesehatan khusus yang ditugaskan untuk melakukan kegiatan health screening bagi jamaah yang datang dan masuk ke dalam masjid.

    “Setiap jamaah yang datang dan akan masuk/keluar masjid akan di scan (dengan menggunakan thermometer scan) dan wajib mencuci tangan serta menggunakan masker,” terangnya.

    DKM juga wajib menyediakan hand sanitizer dan atau bilik sterilisasi virus corona yang direkomendasikan dinas kesehatan di setiap pintu masuk atau keluar masjid.

    “DKM harus melakukan sterilisasi Masjid dengan disinfektan sebanyak dua kali sehari, pada pagi setelah sholat shubuh dan sore hari setelah sholat ashar,” ujarnya.

    Saat pembukaan masjid pertama kali, menurutnya, tim screening DKM harus melakukan kegiatan rapid test kepada jamaah yang biasa datang ke masjid dan mendata jamaah yang sudah terdetesi negatif Covid-19.

    “Jamaah yang belum diperiksa atau dicek melalui rapid test dan ingin sholat di masjid maka wajib melakuan test tersebut,” katanya.

    Tim screening DKM pun hanya akan memperbolehkan jamaah yang sudah terdata secara jelas dan terdeksi negatif Covid-19 masuk atau keluar masjid untuk melaksanakan kegiatan shalat Jumat dan shalat berjamaah.

    Selain itu, warga pendatang, musafir, dan anak-anak tidak diperkenankan untuk datang dan masuk ke dalam masjid.

    “Jamaah yang datang ke masjid tidak diperkenankan berwudlu dan melakukan kegiatan MCK di toilet masjid,” tukasnya. (Hmi)