
TANGERANG – Menghadapi krisis yang terjadi akibat pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Tangerang mencanangkan Program Ketahanan Pangan. Menyikapi hal tersebut, aparatur Kecamatan Neglasari dengan sigap memetakan wilayah untuk dijadikan titik lokasi perkebunan.
Dengan memberdayakan warga sebagai ujung tombak keberhasilan, jajaran Kecamatan Neglasari segera melakukan sosialisasi ke tengah masyarakat. Taman belakang kantor kecamatan pun tak lepas disulap menjadi lahan pembibitan.
Sebagai pilot project percontohan bagi masyarakat wilayah, aparatur kecamatan terjun langsung ke lapangan guna memberikan edukasi dan penyuluhan.

Camat Neglasari Tubagus Sanny Soniawan menjelaskan, Program Ketahanan Pangan sekaligus penghijauan ini merupakan instruksi dari Walikota Tangerang, bapak Arief R Wismansyah.
“Kami diminta memanfaatkan taman atau lingkungan yang belum digarap menjadi lahan penghijauan. Namun harus ditanami dengan jenis tanaman produktif agar bisa dikonsumsi warga, tanpa mengurangi sisi estetika,” terang Sanny.
Ia menerangkan, berbagai jenis tanaman sayuran telah dikombinasikan dengan tanaman hias di sejumlah taman yang sudah ada. Seperti di Taman Tematik Eco Park, Kelurahan Mekarsari.
“Dengan memberdayakan masyarakat, kami menarget membentuk 50 Kelompok Wanita Tani (KWT) di setiap RW yang tersebar di 7 kelurahan,” imbuh Sanny.
Dikatakan, bila saat ini sekitar 16 KWT telah eksis melakukan kegiatan bercocok tanam. Selain menciptakan nuansa hijau dan asri, setidaknya hasil panen dari kegiatan itu bisa dirasakan langsung oleh warga untuk kebutuhan pangan.

“Dalam melaksanakan kegiatan bercocok tanam, masyarakat kami arahkan untuk memanfaatkan lahan fasos fasum milik milik pemerintah atau meminjam lahan warga. Termasuk memanfaatkan pekarangan,” jelas Sanny.
Ia menyebut beberapa KWT yang dianggap telah berhasil membangun lingkungan. Diantaranya KWT Kampung Taubat, KWT Jagal, KWT Sirih, KWT dan KWT Tangga Asem.
“Alhamdulilah, Program Ketahanan Pangan ini mendapat respon positif dari warga. Sehingga masyarakat di seluruh lingkungan RW telah mengajukan dibentuknya KWT. Warga menilai bila KWT yang sudah ada dianggap berjalan dengan baik dan mendatangkan manfaat,” katanya.
Sanny berharap, masyarakat tetap berdaya dan mandiri dalam menghadapi masa pandemi Covid-19 ini. “Jadi jangan sampai masyarakat kehilangan semangat. Kegiatan bercocok tanam diharapkan mampu mengubah perilaku warga menjadi lebih mandiri,” ujarnya.
Sementara itu Sekretaris Kecamatan Neglasari, Edih Yos menerangkan, dalam memenuhi kebutuhan bibit tanaman pihaknya memanfaatkan halaman belakang kantor kecamatan sebagai lahan pembibitan.

“Secara mandiri kami melakukan kegiatan pembibitan untuk disebar ke seluruh KWT. Diantaranya jenis tanaman sayuran. Seperti kangkung, bayam, terong, kacang panjang, cabai dan sebagainya,” jelas Edih.
Mantan Lurah Gandasari yang berhasil membawa KWT binaannya dalam ajang lomba tingkat nasional ini menambahkan, akan menularkan ilmunya dengan mengedukasi warga. Mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan hingga panen.
“Diharapkan ke depan warga bisa benar-benar mandiri dalam hal pengadaan bibit, pupuk dan pemeliharaan,” ungkapnya.
Dikatakan, bila di wilayah Kecamatan Neglasari kini telah dibentuk 16 KWT, Bahkan sudah menjadi destinasi wisata bagi masyarakat lokal. “Kami mencoba membangun KWT menjadi tempat yang sangat menyenangkan. Sehingga warga tertarik untuk mau berkunjung,” kata Edih.
Ia menarget dalam kurun waktu 6 bulan ke depan telah terbentuk 50 KWT di seluruh wilayah RW. Mengingat animo dan antusias warga yang cukup tinggi.
“Semoga tujuan Program Ketahanan Pangan berhasil, sehingga warga secara langsung dapat merasakan berbagai maanfaatnya,” tukas Edih. (ads)

















