Dinkes Sebut 88 Kasus Chikungunya Terjadi di Kota Tangerang

    .Fogging yang dilaksanakan Dinkes Kota Tangerang ke tengah permukiman warga, Minggu (23/2).

    TANGERANG – Dinas Kesehatan Kota Tangerang menyebut, telah terjadi 88 kasus Chikungunya dan 13 kasus Demam Berdarah (DBD).

    Keterangan tersebut disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kota Tangerang, Bevy, Minggu (23/02), menyikapi merebaknya penyakit Chikungunya di Kota Tangerang.

    “Nerdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE), telah terjadi 88 kasus chikungunya. 73 kasus telah sembuh dan sisanya masih dalam proses pengobatan,” ungkap Bevy.

    Dari kunjungan yang dilakukan Dinkes ke tempat tinggal masyarakat, hasilnya 27 persen rumah warga didapati jentik nyamuk. Sehingga berpotensi   menjadi faktor penularan virus dari nyamuk kepada orang di sekitarnya.

    Baca juga : Tangkal Chikungunya dengan Gerakan Hidup Bersih

    Atas terjadinya sejumlah kasus Chikungunya tersebut, Dinkes mengingatkan masyarakat akan pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    “Kami mengimbau masyarakat untuk bisa menerapkan PHBS,” imbuh Bevy.

    Terkait pencegahan DBD dan Chikungunya, masyarakat juga bisa berperan aktif dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3 M plus.

    Yakni menguras bak mandi setiap minggu, menutup tempat penampungan air dan mendaur ulang barang bekas serta memakai obat anti nyamuk atau kelambu.

    “Penanganan Chikungunya sama persis dengan DBD, yaitu melalui PSN DBD. Sebab penularannya masih melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini dikenal sebagai penyebab demam berdarah,” paparnya.

    Bila semua sarang nyamuk diberantas tambah Bevy, maka akan meminimalisir tempat berkembangbiaknya nyamuk.

    “Kami juga telah melakukan berbagai langkah untuk meminimalisir penyebaran Chikungunya dan DBD. Diantaranya mengaktifkan Pokja DBD di Kecamatan dan Kelurahan, serta menerjunkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik), dan Fogging. Termasuk abatisasi guna membunuh jentik nyamuk,” terangnya.

    “Tim kami juga sudah lakukan penyuluhan ke masyarakat. Termasuk melaksanakan sampel lingkungan dan tes darah pasien yang masih demam,” tandas Bevy. (rls/tam)