HUT-Kota-Tangerang-PKB.jpg

    Intip Ratusan Anak Penderita Hemofilia di Kota Tangerang yang Minim Perhatian

    FOTO: Sejumlah anak penderita kanker di Yayasan Amaryllis Kirana, Jalan Jendral Ahmad Yani, Sukaasih, Kota Tangerang

    TANGERANG (BT) – Hemofilia merupakan salah satu jenis penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak di dunia. Penyakit ini dipicu dari kelainan genetik yang menyebabkan darah tidak dapat membeku.

    Hemofilia berbeda dengan kebanyakan kanker. Sebab tidak membentuk benjolan padat (tumor). Hemofilia dipicu oleh mutasi genetik yang menyebabkan darah kekurangan protein pembentuk faktor pembekuan, sehingga darah sukar membeku.

    Hemofilia diketahui saat ini belum dapat disembuhkan. Meskipun begitu, penderita hemofilia dapat hidup normal dengan mencegah terjadinya luka dan melakukan kontrol secara rutin ke dokter. Di Kota Tangerang saat ini ditemukan sebanyak 176 kasus penderita kanker tersebut.

    Ratusan anak penderita hemofilia membutuhkan perawatan secara berkesinambungan. Beruntung, Yayasan Amaryllis Kirana Tangerang bersedia menampungnya. Yayasan rumah singgah yang terletak di Jalan Jendral Ahmad Yani, Sukaasih, Kota Tangerang ini menjadi ruang berbagi kisah untuk ratusan anak penderita hemofilia.

    “Semua penderita diperkenankan untuk menginap di sini sampai kapanpun. Tapi kita utamakan anak-anak,” ungkap Ketua Yayasan Amaryllis Kirana, Asep Ruswiadi saat berbincang dengan Beritatangerang.id, Minggu (22/3/2020).

    Menurut Asep, anak-anak di rumah singgah Amaryllis saat ini tengah menjalani perawatan. Untuk penanganan kasus tersebut membutuhkan biaya tak sedikit, dan bahkan memerlukan waktu yang cukup lama. Sejauh ini pihaknya hanya mampu memfasilitasi para penderita berupa akomodasi dan transportasi.

    “Jadi mereka yang jalani perawatan ini kendalanya dua, transport dan makan. Makanya kadang kita jemput, daripada mereka tidak datang untuk berobat,” kata Asep.

    “Kami juga beri obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS di RS tipe B dengan harga yang lebih murah,” imbuhnya.

    Kata Asep, sudah seharusnya penanganan kasus ini dilakukan bersama-sama. Sebab menurutnya, pemerintah dalam hal ini Pemkot Tangerang wajib berperan untuk kelangsungan hidup anak-anak penderita hemofilia yang notabenenya warga Kota Tangerang.

    “Sayangnya kita belum mendapat bantuan apa-apa dari Pemkot Tangerang maupun Pemprov Banten. Padahal anak-anak sangat butuh perhatian pemerintah,” tukasnya.

    Meski demikian, Asep mengaku tetap berupaya maksimal demi kesembuhan anak-anak di Yayasan Amaryllis. Kendati terkendala biaya, upaya yang dilakukannya cukup berbuah hasil. Tercatat sekitar 20% dari 176 kasus di Kota Tangerang yang kondisinya semakin membaik.

    “Hampir 20 persen di antaranya sudah dinyatakan sembuh,” tandasnya. (Hmi)