BPKAD

    Kecewa Tak Ikut Raker Kesda, Walikota Sindir RS Swasta

    Walikota Tangerang Arief R Wismansyah (tengah), didampingi Kadis Kesehatan Kota Tangerang Liza Puspadewi (kiri), disela acara Raker Kesda 2018.


    TANGERANG – Penanganan masalah kesehatan memerlukan kerjasama semua pihak. Tidak terkecuali para pengelola rumah sakit yang ada di Kota Tangerang. Hal tersebut ditegaskan Walikota Tangerang Arief R Wismansyah, pada Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Raker Kesda), Selasa (38/8), di aula kantor Dinas Kesehatan Kota Tangerang.

    Ia sangat kecewa dan menyayangkan, atas ketidakhadiran beberapa pengelola RS swasta dalam kegiatan itu. “Coba tunjuk tangan peserta dari rumah sakit swasta. Ada berapa orang. Jabatannya apa. Kemana direkturnya?,” tanya Arief, kepada para undangan.

    Ia menegaskan, raker bertujuan untuk merumuskan program kerja yang akan dilakukan oleh seluruh rumah sakit yang ada di Kota Tangerang. “Masa iya hanya mengalokasikan waktu satu hari dalam setahun enggak bisa,” sindir Arief.

    Pada kesempatan tersebut, Arief bercerita tentang upaya pemkot untuk merubah pola hidup masyarakat. Guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Atas kerja keras bersama kata Arief, secara perlahan masyarakat paham terhadap penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    “Seharusnya pihak RS pun juga bisa bersinergi dalam menangani persoalan kesehatan,” tegasnys. Selanjutnya Arief berharap, sosialisai terkait masalah kesehatan, diharapkan juga diberikan kepada para siswa sekolah. Selain kepada orang dewasa.

    “Penlajaran yang ditanamkan sedini mungkin, bisa menjadi kebiasaan yang baik kedepannya. Bahkan dapat membawa dampak positif bagi keluarga siswa itu sendiri. Semoga mereka bisa menjadi agen-agen yang paham tentang budaya hidup sehat,” terang Arief

    Menutup sambutannya, walikota berharap agar pelaksanaan raker kesda tingkat Kota Tangerang bisa semakin meningkatkan derajat hidup masyarakat. “Semoga dengan terselenggaranya kegiatan ini, kota kita bisa semakin baik lagi. Kemudian warganya semakin sehat dan sadar akan budaya hidup sehat,” pungkas Arief.

    Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Liza Puspadewi mengatakan, penanganan persoalan kesehatan memerlukan sinergitas dan inovasi dari semua pihak. Seperti contoh kasus stunting. Diperlukan penanganan yang serius dan komprehensif.

    “Dinas Kesehatan melalui puskesmas, memberikan pendampingan khusus dalam menanganinya. Satu kader untuk satu penderita. Supaya angka dapat terus ditekan. Alhamdulillah penderita stunting terus berkurang hingga 80%,” jelas Liza.

    Untuk diketahui, Raker Kesda Kota Tangerang 2018, bertujuan membangun sinergitas pemerintah dan swasta. Dalam rangka mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) melalui percepatan eliminasi tuberkulosis, penurunan stunting serta peningkatan cakupan dan mutu imunisasi.

    Sehingga diperlukan kerjasama dan komitmen dari semua pihak untuk ikut menanganinya. Terlebih di Indonesia, jumlah penderita Tuberkulosis (TBC) terus meningkat. Setidaknya hingga tahun 2017, ditemukan 112 jiwa penderita dari setiap 100 ribu penduduk. “Selanjutnya stunting atau gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, madih menjadi prioritas perhatian kami, kata Liza. (hms/tam)