
TANGERANG – Paska terbakarnya pabrik pembuat thinner di kawasan industri Manis Jaya, Kecamatan Jatiuwung, masih menyisakan trauma bagi masyarakat sekitar. Pasalnya kebakaran yang melalap pabrik yang terjadi, Jumat (17/11) lalu, menimbulkan kobaran api dengan ketinggian mencapai puluhan meter.
Panas yang cukup menyengat, dirasakan warga hingga radius puluhan meter dari lokasi kejadian. Selama kebakaran terjadi, terdengar dentuman yang berasal dari ratusan drum berisi cairan bahan pembuat thinner.

Warga yang rumahnya dekat dengan pabrik itu, terpaksa mengungsi. Selain panasnya si jago merah, warga khawatir kebakaran merembet ke permukiman selitar. Masyarakat juga merasa takut. Sebab sejumlah drum ada yang terlempar dan menimpa bangunan tempat tinggal warga.
Menyikapi musibah kebakaran tersebut, selanjutnya warga RW 03 dan 05 Kelurahan Manis Jaya, melangsungkan rapat. Sebanyak 288 warga, menghadiri rapat yang digelar, Minggu (19/11). Masyarakat mendengar kabar, bila pemilik PT Mustika Caraka Laksana, berniat membangun kembali usahanya. Yaitu memproduksi thinner merk Cobra.
“Masyarakat ketakutan. Makanya mereka keberatan bila pemilik membangun kembali usaha di bidang yang sama,” ungkap Suwandi, tokoh masyarakat sekitar. Anggota DPRD Kota Tangerang periode 2009 – 2014 ini meminta, supaya pemkot mengkaji ulang sebelum mengeluarkan izin usaha.

Meski berada di kawasan industri, namun pabrik pengolah bahan kimia mudah terbakar ini berbatasan langsung dengan perkampungan padat penghuni. “Selama pabrik beroperasi, warga tidak pernah menerima kontribusi apa-apa. Termasuk paska kebakaran,” ujarnya.
Padahal tambah Suwandi, kebakaran tidak hanya menimbulkan kerugian materi bagi warga. Lantaran atap bangunan yang tertimpa drum. Namun juga ada efek kerugian psikologi yang dialami warga karena trauma. “Ada warga yang shock. Kemudian harus dirawat beberapa di rumah sakit. Lantaran kebakaran tersebut,” tutur Suwandi.
Ia juga menyayangkan sikap yang ditunjukan dinas terkait terhadap warga yang terpaksa mengungsi. “Jangankan menerima bantuan, ditengok saja tidak,” katanya. Saat kebakaran berlangsung, ratusan warga pengungsi memenuhi lapak milik Suwandi yang berjarak sekitar seratus meter dari lokasi kebakaran.
Area lapak Suwandi pun sontak dipenuhi puluhan mobil dan ratusan motor warga. Untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan. “Ratusan warga terpaksa bermalam di lapak. Sebab petugas pemadam kebakaran (Damkar) mengatakan, pabrik masih berpotensi terbakar. Sebab di dalamnya masih terdapat bahan kimia yang kemungkinan akan terbakar,” ungkap Suwandi.
Seluruh warga yang menghadiri rapat kata Suwandi, sepakat dan merasa keberatan bila pabrik dibangun kembali mengolah bahan kimia thinner. Keberatan warga juga disampaikan Ketua RT 01/03 Idris. Warga menurut Idris, merasa risau bila pemilik pabrik kembali membangun usaha yang sama. “Kami merasa was-was. Trauma bakal terjadi hal serupa di kemudian hari,” ujar Idris. (hdj)

















