IMG-20181226-WA0114
IMG-20181226-WA0116
IMG-20181226-WA0115

    Terkait Permasalahan Air Baku, Kota Tangerang Bakal Jajaki Kerjasama dengan Jepang

    Pejabat Dinas PUPR (kanan), saat berdiskusi dengan konsultan JICA, Selasa (27/11), mengupas tentang permasalahan air bersih di Kota Tangerang.

    TANGERANG – Untuk mengatasi permasalahan air baku, Pemkot Tangerang sedang menjajaki jalinan kerjasama dengan Jepang. Melalui perusahaan Daiken Corporation dan salah satu konsultannya yaitu Japan International Cooperation Agency (JICA), menawarkan kerjasama kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

    Jalinan yang ditawarkan terkait sistem pemanenan air hujan menjadi air baku atau Rainwater Harvesting System. Metode ini berfungsi sebagai penampungan air dikala hujan. Kemudian air yang sudah ditampung atau “dipanen”, ini nantinya akan menjalani beberapa proses hingga dapat digunakan kembali sebagai air baku. Bahkan bisa dimanfaatkan menjadi air minum atau kebutuhan lain sehari-hari.

    Sehingga saat memasuki musim penghujan dan curah hujan cukup tinggi, air dapat dimanfaatkan secara optimal. Juga dapat meminimalisir banjir dan genangan. Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Tangerang Taufik Syahzaeni menjabarkan, apabila penjajakan teknologi ini nantinya berhasil, maka Kota Tangerang menjadi kota pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi ini.

    “Sekarang masih dalam tahap penjajakan, survey lokasi dan hitung-hitungan datanya terus dilakukan. Teknologi ini sudah dipakai oleh Jepang, Laos dan Vietnam,” terang Taufik, Selasa (27/11), saat ditemui di ruang Rapat Dinas PUPR Kota Tangerang.

    Ia menerangkan, teknologi ini bentuknya seperti penampungan air hujan. Kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai air baku yang sangat bernilai tinggi saat musim kemarau.

    “Kalau teknologi ini kita terapkan, tentu ke depannya sangat bagus. Apalagi materialnya ada di Indonesia. Nanti aplikasi dan bentuk desainnya mereka yang buat,” ungkapnya.

    Melalui sistem ini terang Taufik, bisa menjadi penampungan air untuk mengurangi genangan saat musim penghujan. Kemudian ketika musim kemarau tiba, tidak khawatir kekeringan. Sebab ada tampungan air bersih. “Bahkan kalau di Jepang, air hujannya bisa langsung diminum setelah melewati proses dari alat ini,” imbuhnya.

    Sedangkan perwakilan Pusat Air Tanah dan Air Baku Kementerian PUPR, Anshar mengatakan, Kota Tangerang sebagai kota industri sangat bisa menggunakan teknologi seperti ini.

    “Jepang sendiri merupakan negara industri. Berarti kota ini juga bisa. Kalau nanti terjadi hujan asam, alat ini bisa mengubah kadar PH menjadi basa. Artinya air menjadi sangat berkualitas dan aman untuk diminum,” tutur Azhar.

    Mr Okamoto dari Daiken Corporation selaku pemilik alat teknologi Rainwater Harvesting System menyatakan, teknologi ini sangat cocok diterapkan di Indonesia. Untuk mengatasi masalah kekeringan, air bersih dan banjir sekaligus.

    “Alat ini mampi memanen air yang ditampung saat hujan. Selanjutnya dapat digunakan kembali untuk air bersih saat musim kemarau,” kata Okamoto. Apabila proses penjajakan teknologi Rainwater Harvesting System ini berhasil, maka wilayah yang akan menjadi pilot project diantaranya adalah Kecamatan Larangan, Ciledug dan Karang Tengah. (hms/tam)

    Print Friendly, PDF & Email
    IMG-20181126-WA0033
    IMG-20181225-WA0244