TANGERANG – Peringati hari AIDS se-dunia, Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Provinsi Banten menyoroti minimnya fasilitas kesehatan untuk para pengidap HIV/AIDS (ODHA).
Ketua IPPI cabang Provinsi Banten, Rohma mengaku terus memperjuangkan hak-hak perempuan ODHA seperti ketiadaan fasilitas persalinan. Pihaknya pun berupaya mengubah stigma masyarakat terhadap ODHA dengan penggunaan bahasa kesehatan yang lebih pantas.
“Harusnya ada bahasa yang halus atau kode seperti b dua puluh,” ujar Rohma, Selasa (1/12/2020).
Di Kota Tangerang, menurutnya, fasilitas kesehatan bagi para ODHA masih sangat minim. Kebanyakan tersedia di RSUD Kabupaten Tangerang yang dinilai lebih baik ketimbang kota atau kabupaten lainnya di Banten.
“Masih ketinggalan jauh Kota Tangerang,” tukasnya.
Berdasarkan data yang terhimpun, para penderita ODHA di Provinsi Banten didominasi oleh kaum perempuan. Sebab menurut Rohma, kaum hawa sangat rentan tertular dari pasanganya.
Pemkot Tangerang pun dinilai minim perhatian terhadap para penderita ODHA khususnya perempuan ODHA di Kota Tangerang.
“Para pendamping harus tau kalau penanganan bagi pasien baru itu tidak dibiayai oleh pemerintah, tapi dari dana asing,” kata Rohma.
“Pernah ada bantuan dari APBD untuk program pendampingan, namun biaya operasional baru bisa dicairkan tiga bulan sekali, itu justru memberatkan kita,” tegasnya.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per akhir Juni 2019, jumlah penderita AIDS capai 117.064 jiwa. Sedangkan penderita HIV mencapai 349.882.
Sementara kasus HIV/AIDS yang terekam berasal dari 463 kabupaten/kota di wilayah NKRI, tentunya setara dengan 90,06% dari jumlah kabupaten/kota yang ada di Indonesia. (Hmi)





















