Film Perdana Douwes Dekker Diputar di Lebak

    Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya (tiga kiri), pada acara nobar film perdana "Setelah Multatuli Pergi", Sabtu (7/3).

    LEBAK – Memperingati 200 tahun kelahiran Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal Multatuli, Pemkab Lebak melalui Kepala Museum Multatuli menggelar nonton bareng (Nobar) film dokumenter perdana “Setelah Multatuli Pergi”, Sabtu (7/3), di Pendopo Museum Multatuli.

    Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya pada acara itu menyampaikan, setelah Multatuli pergi berbagai capaian dapat dilihat dan dirasakan di Lebak.

    “Sarana dan prasarana yang memadai, akses dan konektivitas antar kecamatan terhubung dengan baik. Juga pembangunan yang terus dilaksanakan, semata-mata demi kesejahteraan dan kebaikan warga Lebak,” terang Iti.

    “Setelah Multatuli pergi, berbagai kemudahan dapat kita rasakan. Saat ini, perempuan tidak lagi dibatasi geraknya dalam menduduki posisi-posisi penting,” ungkap Iti.

    Untuk itu ia mengajak perempuan-perempuan yang ada di Lebak, untuk bersama-sama membangun Kabupaten Lebak menjadi lebih baik.

    iti juga berharap, film “Setelah Multatuli Pergi” dapat menginspirasi dan membawa Kabupaten Lebak ke pentas dunia.

    Terkait Museum Multatuli, Iti menjelaskan, dua tahun lalu museum yang mengusung tema antikolonialisme tersebut diresmikan.

    Didirikannya gedung tempat menyimpan bukti sejarah itu merupakan bentuk apresiasi terhadap warisan pengarang besar Belanda, yang membawa spirit antikolonialisme lewat novelnya Max Haveelar.

    Sementara itu Sejarawan Bonnie Triyana sekaligus Produser Eksekutif Film Dokumenter Setelah Multatuli Pergi mengatakan, film dokumenter itu dibuat sebagai ikhtiar mencari jawaban atas sederet pertanyaan.

    “Banyak masyarakat bertanya, apakah novel Max Haveelar ditulis berdasarkan fakta atau fiksi belaka,” kata Bonnie

    Juga muncul pertanyaan apakah benar kehidupan rakyat mengalami perubahan yang drastis dan substansial dua abad setelah multatuli pergi dan 75 tahun Indonesia Merdeka.

    Atau apakah yang tersisa dari masa kolonial dalam kehidupan sehari-hari di era sekarang ini.

    “Setelah diputar perdana malam ini (malam Minggu-red), film dokumenter ini akan diputar keliling eropa. Mulai dari Amsterdam, Brussel, Paris, Berlin dan Hamburg” papar Bonnie,

    Ia menambahkan, film sejarah ini sengaja diputar perdana di Rangkasbitung. Alasannya, karena Lebak merupakan daerah Multatuli terinspirasi menulis kisah-kisah penderitaan rakyat jajahan yang terwakili dalam cerita Saidjah dan Adinda dari Desa Badur. (rls/tam)