Iklan-PJTI
HUT-Kota-Tangerang-PKB.jpg

    Pekan ke-4 September 2019, 25 Gempa Guncang Banten

    FOTO: dok. BMKG Stageof Tangerang

    TANGERANG (BT) – Aktivitas kegempaan pada minggu ke-4 September 2019 relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan minggu ke-3 September 2019. Gempa bumi tektonik telah terjadi sebanyak 25 kali selama pekan ke-4 Bulan September 2019 di wilayah Banten dan sekitarnya.

    Hasil analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika (Stageof) Tangerang menunjukan bahwa kekuatan gempa bumi yang terjadi bervariasi, mulai dari M2.4 hingga M5.3.

    “Sebaran pusat gempa bumi (episenter) kebanyakan berada di barat laut Provinsi Banten,” ujar Suwardi, Kepala BMKG Stageof Tangerang, Sabtu (28/9/2019).

    Sama seperti minggu ke-3 September 2019, menurut Suwardi, gempa bumi dengan kekuatan 3 ≤ M ≤ 5 masih dominan terjadi yaitu sekitar 72% (18 kejadian), diikuti gempa bumi dengan kekuatan M < 3 sebesar 20% (5 kejadian), serta gempa bumi dengan M > 5 sebesar 8% (2 kejadian).

    “Tidak ada laporan gempa bumi dirasakan maupun merusak selama periode 20 – 26 September 2019. Dari 25 kejadian, 84% nya merupakan gempa bumi dengan kedalaman pusat gempanya kurang dari 60 kilometer,” terangnya.

    Berkaca dari gempa bumi yang mengguncang Ambon dan sekitarnya pada 26 September 2019 menimbulkan korban jiwa dan mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan bangunan waktu lalu. Sebab, ilmu pengetahuan dan teknologi hingga kini baru bisa sebatas memetakan lokasi rawan gempa bumi, namun belum dapat memprediksi kapan terjadinya gempa bumi.

    Dilanjutkan Suwardi, Banten dan sekitarnya termasuk wilayah yang rawan gempa bumi dan tsunami. Gempa bumi yang berpotensi menyebabkan kerusakan di Provinsi Banten dan sekitarnya bersumber dari sekitar Selat Sunda yaitu sesar Ujung Kulon, Zona Megatrust selatan Banten serta sesar Semangko.

    “Yang bisa kita lakukan adalah mengidentifikasi segala sesuatu di tempat kita berada yang berpotensi membahayakan diri kita maupun keluarga saat terjadi gempa bumi, misalnya lampu gantung, pigura besar di dinding, lemari besar, barang pecah belah, jendela kaca, tabung gas, dan tiang listrik,” urainya.

    “Pastikan semua anggota keluarga mengetahui tempat aman untuk berlindung, jalur evakuasi, serta titik kumpul,” ujarnya menambahkan.

    Lebih lanjut menurut dia, gempa bumi terjadi secara tiba-tiba dengan durasi yang sangat singkat (orde detik). Goncangan gempa bumi kuat akan mengakibatkan badan susah untuk berdiri, kepala pusing, dan kadang mual. Maka dari itu, untuk mengurangi resiko tertimpa reruntuhan, segera merunduk (drop), lindungi kepala dan leher (cover), dan berpegangan (hold on) pada furnitur, pilar yang kuat.

    “Apabila dirasa masih benar-benar memungkinkan, maka kita bisa keluar dari ruangan dengan tetap melindungi kepala dan leher,” jelasnya.

    “Saat kita sedang berada di luar bangunan atau di area terbuka, upayakan tetap melindungi kepala dan leher serta hindari tiang listrik, papan reklame, pohon besar, dan gedung yang berpotensi roboh. Segera jauhi retakan tanah di sekitar kita,” imbuhnya.

    Jika sedang di pegunungan, lanjut ia, hindari daerah yang mungkin longsor. Apabila gempa terjadi saat sedang mengendarai mobil, maka segera menepi dan berhenti, tariklah rem tangan, dan tetap di tempat sampai gempa reda. Kemudian keluar, turun, dan jauhi mobil jika terjadi rekahan tanah atau kebakaran.

    “Apabila saat kita berada di pantai merasakan gempa bumi yang kuat, sehingga susah berdiri atau gempa bumi yang tidak terlalu kuat, namun lama (lebih dari satu menit) seperti diayun, disarankan segera menjauhi pantai dan menuju ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari gelombang tsunami,” tuturnya.

    Saat goncangan gempa bumi sudah reda, kata Suwardi, keluarlah dari bangunan dengan tertib menuju titik kumpul dengan tetap melindungi kepala dan leher. Apabila berada di gedung bertingkat, tidak disarankan melakukan evakuasi menggunakan lift, lebih aman jika menggunakan tangga darurat.

    “Kita hendaknya tidak terburu-buru masuk ke dalam rumah atau bangunan. Pastikan bangunan tersebut tidak ada kerusakan. Kita harus berhati-hati pada bangunan yang retak-retak, karena berpotensi membahayakan kita saat gempa bumi susulan terjadi,” ujarnya.

    Ia juga mengungkapkan, jika terjadi gempa bumi susulan saat sedang berada titik kumpul, segera merunduk dan lindungi kepala dan leher. Segera lakukan pertolongan pertama pada korban yang terluka ringan. Apabila ada yang terluka parah, segera minta pertolongan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

    “Tetap waspada terhadap bahaya ikutan akibat gempa bumi seperti kebakaran, maka jauhi lokasi yang berbau gas atau cairan berbahaya seperti bensin dan lain-lain,” tukasnya.

    Ia mengimbau agar masyarakat menyimak informasi gempa bumi susulan maupun peringatan dini tsunami dari BMKG melalui radio, televisi, maupun aplikasi info BMKG. Untuk menghindari HOAX (berita bohong), pastikan informasi berasal dari sumber yang terpercaya dan lembaga resmi (seperti BMKG, BNPB, BPBD).

    “Apabila kita mendapatkan informasi dari media sosial, hendaknya baca seluruh informasinya dengan seksama sebelum meneruskan info tersebut kepada teman maupun anggota keluarga yang lain. Janganlah kita menjadi bagian dari penyebar berita bohong (hoax),” tandasnya. (Hmi)